Sekolah agama itu ada di perkampungan nelayan, bangunan-bangunan panjang dua-tiga lantai, beratap genteng, dengan cat putih, menghadap pantai. Sesore ini, sepanjang jalan perkampungan terlihat ramai, penduduk berkumpul, duduk-duduk, mengobrol, anak-anak bermain kejar-kejaran, juga di pantai, banyak yang menghabiskan waktu sambil menatap sunset sebentar lagi. Pucuk-pucuk pohon nyiur terlihat di atas atap rumah. Perahu-perahu tertambat rapi, angin bertiup pelan, membawa aroma masakan dari rumah-rumah nelayan. Mobil Jeep yang kukemudikan perlahan memasuki pintu gerbang sekolah, beberapa santri terlihat sedang mengerjakan tugas mereka di salah-satu bangunan, membawa peralatan masak, karung-karung bahan masakan, menyiapkan makan malam. Satu-dua sedang menyapu halaman, membersihkan teras-teras panjang, juga mengangkat jemuran. Aku mendongak, masjid dan menara tingginya terlihat gagah. Turun dari mobil, salah-satu santri yang mengenaliku bilang kalau Tuanku Imam s...